Portugal menghadapi Spanyol, sebuah bentrokan puncak antara dua aliran besar: serangan balik efisien dan penguasaan bola ekstrem. Total nilai skuad kedua tim mencapai 2,23 miliar euro, menjadikannya duel 16 besar paling bernilai di turnamen ini. Spanyol finis sebagai juara Grup H dengan 2 kemenangan dan 1 hasil imbang tanpa kebobolan, serta mencatat 34 laga internasional beruntun tanpa kekalahan. Sistem 4-3-3 mereka sudah sangat matang, dengan Rodri dan Pedri mengatur alur permainan di lini tengah, sementara Lamine Yamal yang berusia 18 tahun sangat eksplosif dalam penetrasi dari sisi sayap. Rata-rata penguasaan bola mereka melebihi 64%, dan mereka terus menciptakan peluang tembak lewat infiltrasi di area half-space serta umpan silang dari sisi sayap; kelemahannya, winger utama Nico Williams absen, dan mereka tidak memiliki penyerang tengah murni sebagai titik tumpu, sehingga saat terlalu maju menekan, ruang di belakang sangat rentan diekspos lewat serangan balik.
Portugal lolos dengan dramatis sebagai runner-up Grup K, lalu pada babak 16 besar menyingkirkan Kroasia 2-1 lewat gol penentu di masa injury time. Cristiano Ronaldo yang berusia 41 tahun mencetak gol lewat penalti, dan tim mengandalkan bentuk fleksibel 4-2-3-1 dengan blok yang lebih rapat. Rafael Leão di sisi kiri menjadi senjata utama serangan balik, Bruno Fernandes menghubungkan lini tengah lewat umpan-umpan panjang, sementara Cristiano Ronaldo secara khusus bertugas mengeksekusi bola mati dan menyambar peluang di dalam kotak penalti; lini belakang dipimpin Rúben Dias, tetapi veteran Pepe terus diganggu cedera. Dalam situasi menyerang terstruktur, cara mereka membongkar pertahanan lawan masih terbatas, sehingga mereka terutama bergantung pada serangan balik dan bola mati untuk mencari celah mencetak gol.
Pertemuan kedua tim di turnamen besar hampir tak pernah kekurangan gol. Pada Piala Dunia 2018, mereka bermain imbang 3-3 dalam laga klasik penuh gol, dengan free kick gaya peluru Ronaldo di menit ke-88 menjadi momen ikonik yang menyelamatkan Portugal. Pada final UEFA Nations League 2025, mereka kembali berbagi angka 2-2 di waktu normal. Spanyol mampu terus menekan sepanjang laga dan stabil menghasilkan tembakan, sementara Portugal punya kemampuan mencetak gol yang konsisten lewat serangan balik dan bola mati. Kedua lini pertahanan sama-sama memiliki celah yang jelas, sehingga sumber gol dari kedua sisi sangat terbuka. Secara historis, rata-rata total gol dalam duel mereka di ajang besar melebihi 3 gol per pertandingan, jadi laga ini sangat sulit berakhir sebagai pertarungan minim gol yang membosankan. Logika untuk melewati batas 2,5 gol terlihat sangat jelas.