Tuan rumah Amerika Serikat menjamu Setan Merah Eropa, Belgia, dalam bentrokan langsung antara pressing cepat khas anak muda dan sistem penguasaan bola tradisional. Amerika Serikat lolos sebagai juara Grup D dengan catatan 2 menang, 1 imbang, dan tanpa kebobolan, lalu melaju usai menyingkirkan Bosnia dan Herzegovina 2-0 tanpa kebobolan di babak 1/16 besar. Pochettino mengusung formasi 4-3-3 dengan pressing tinggi, dan rata-rata usia tim hanya 22,8 tahun. Dengan dukungan bermain di kandang sendiri, keunggulan fisik mereka sangat maksimal. Pulisic dan Dest terus melakukan sprint bolak-balik di sisi sayap, secara khusus menyasar kelemahan bek tengah Belgia yang menua dan lambat berputar. Menyerang bola mati juga menjadi senjata stabil untuk mencetak gol. Namun, kelemahan utama tim adalah striker utama Balogun terkena skors karena kartu merah, sehingga mereka kekurangan titik tumpu di kotak penalti dan efisiensi penyelesaian serangan posisi menurun. Saat bek sayap terlalu agresif naik, ruang di belakang mereka mudah terekspos untuk serangan balik. Selain itu, tim ini juga masih kurang pengalaman dalam laga-laga besar fase gugur.
Belgia finis sebagai runner-up Grup G dengan susah payah, lalu menang dramatis 3-2 atas Senegal lewat perpanjangan waktu 120 menit di babak 1/16 besar. Kerangka generasi emas mereka masih ada: De Bruyne mengatur tempo dari lini tengah, Doku melakukan penetrasi dari sayap, Lukaku menjadi tumpuan di kotak penalti, dan Courtois berdiri sebagai penjaga gawang andalan. Secara kualitas nama besar, mereka jelas lebih unggul di atas kertas. Namun, bahaya fatalnya adalah laga sengit sampai perpanjangan waktu pada putaran sebelumnya telah menguras habis kebugaran para pemain utama, sehingga setelah menit ke-60 intensitas lari dan cakupan area mereka turun drastis. Duet bek tengah mereka juga berusia cukup tua, lambat dalam melakukan recovery lateral. Dalam empat laga fase grup, mereka kebobolan 4 gol, dan saat menghadapi tekanan cepat yang terus-menerus, mereka sangat rentan melakukan kesalahan bertahan.
Dari 7 pertemuan resmi, Belgia unggul dengan 6 kemenangan dan 1 kekalahan. Pada Piala Dunia 2014 di babak gugur, kedua tim bermain imbang 0-0 di waktu normal dan baru ditentukan lewat perpanjangan waktu, yang sudah cukup membuktikan bahwa pertahanan Amerika Serikat sangat tangguh. Belgia memang unggul dalam penguasaan bola, tetapi sulit menciptakan selisih gol yang besar. Amerika Serikat mengandalkan serangan balik dan bola mati untuk menjaga jarak skor tetap tipis. Kedua tim sama-sama punya kelemahan di fase menyerang dan bertahan, sehingga selisih gol dalam 90 menit sangat sulit melebihi satu gol. Peluang hasil imbang sangat tinggi, dan arah handicap 0 untuk tuan rumah Amerika Serikat terasa masuk akal.