Pada laga perdana fase grup Piala Dunia ini, pergerakan handicap layak dibedah lebih dalam, dan arah kemenangan Afrika Selatan atas handicap patut menjadi perhatian utama.
Kita lihat dulu pergerakan handicap-nya. Pada tahap awal, sejumlah bandar serentak membuka Meksiko dengan handicap -1, dengan harga tuan rumah berada di kisaran 0,84 hingga 0,94 pada level rendah-menengah, sementara harga tim tamu berada di antara 0,88 hingga 0,97. Namun memasuki jendela jelang laga, handicap mengalami kenaikan serempak dengan langkah yang selaras; semua bandar tanpa terkecuali menaikkan dari handicap satu gol menjadi satu gol/setengah gol. Secara logika umum, kenaikan handicap berarti keyakinan bandar terhadap kemenangan besar Meksiko semakin kuat, dan seharusnya diiringi penurunan harga tuan rumah. Namun perubahan harga yang terjadi justru sepenuhnya bertolak belakang dengan logika tersebut. Setelah handicap naik, harga tuan rumah bukan turun, melainkan melambung tajam dari 0,84–0,94 menjadi level super tinggi 1,03–1,11. Di beberapa bandar, kenaikan harga tuan rumah bahkan melampaui 20 poin; misalnya ada perusahaan yang naik langsung dari 0,89 ke 1,11. Sementara itu, harga tim tamu justru ditekan secara kolektif dari 0,88–0,97 pada awal menjadi kisaran rendah 0,77–0,86.
Operasi kenaikan handicap yang dibarengi lonjakan besar pada harga tuan rumah ini, dalam bahasa handicap disebut sebagai kenaikan handicap yang bersifat mengarahkan. Secara permukaan, bandar menciptakan ekspektasi kemenangan besar Meksiko dengan menetapkan batas yang lebih tinggi, tetapi pada saat yang sama menggabungkannya dengan harga tuan rumah yang sangat tinggi. Artinya, jika Meksiko benar-benar menembus handicap, bandar akan menanggung tekanan pembayaran yang sangat besar. Keyakinan yang sesungguhnya justru ditunjukkan lewat kenaikan handicap disertai penurunan harga, bukan kenaikan handicap disertai kenaikan harga. Struktur handicap saat ini justru menunjukkan bahwa bandar masih cukup konservatif terhadap risiko pembayaran akibat kemenangan besar Meksiko, dan malah menggunakan handicap dalam dengan harga tinggi untuk menarik dana pasar, dengan niat sebenarnya adalah meredakan tekanan terhadap kemungkinan tim tamu tampil baik.
Dari sisi kekuatan tim, ada pula petunjuk yang mendukung Afrika Selatan. Meksiko dalam 10 laga terakhir mencatat 6 menang, 3 imbang, dan 1 kalah; catatannya memang impresif, tetapi jika dilihat lebih detail, banyak kemenangan diraih dengan selisih satu gol saja. Kemenangan 5-1 atas Serbia pada laga terakhir memang mencolok, namun nilai referensinya untuk Piala Dunia tidak bisa disamakan dengan laga resmi. Di bawah intensitas pertahanan turnamen Piala Dunia, kemampuan mereka dalam membongkar pertahanan masih perlu diuji. Afrika Selatan dalam 10 laga terakhir memang hanya punya tingkat kemenangan 40 persen, tetapi tak terkalahkan dalam 70 persen laga. Menghadapi tim-tim kuat Afrika seperti Mesir dan Kamerun, mereka pun mampu menjaga skor tetap ketat, sehingga daya tahan mereka tidak bisa diremehkan.
Rekor pertemuan juga menarik untuk dicermati. Dari dua pertemuan sebelumnya, Afrika Selatan tidak terkalahkan dengan 1 menang dan 1 imbang, termasuk hasil 1-1 melawan Meksiko di fase grup Piala Dunia 2010, serta kemenangan 2-1 atas lawan yang sama di Piala Emas Amerika 2005. Saat menghadapi Meksiko, tampaknya Afrika Selatan selalu punya cara untuk merespons, dan secara psikologis mereka tidak berada di posisi yang inferior.
Jika digabungkan antara kenaikan handicap yang bersifat mengarahkan dan dukungan dari sisi fundamental, Meksiko jelas bukan tim yang mudah untuk menembus handicap dalam satu gol/setengah gol ini. Prediksi skor: Meksiko 1-0 atau 1-1 Afrika Selatan, dan arah Afrika Selatan untuk menahan handicap layak diikuti.