Pada fase awal, banyak institusi membuka line 2,5 gol, dengan water level untuk over berkisar di rentang 0,80 hingga 1,13, secara keseluruhan berada pada posisi water level menengah-rendah. Secara kasat mata, pihak institusi tampaknya memberi kewaspadaan terhadap over. Namun, memasuki jendela jelang pertandingan, terjadi penyesuaian kolektif yang krusial pada handicap. Hampir semua institusi menaikkan line dari 2,5 gol ke 2,5/3 gol. Setelah line naik, water level over bukan malah turun, tetapi justru secara serempak terdorong naik dari level menengah-rendah pada awal menjadi kisaran tinggi 0,86 hingga 1,04. Salah satu institusi menaikkan line dari 2,5 gol ke 2,5/3 gol, dengan water level over melonjak dari 0,96 ke 1,04. Institusi lain menaikkan line dari 2,5 gol ke 2,5/3 gol, dengan water level over naik dari 0,97 ke 1,02. Kenaikan line yang dibarengi dengan lonjakan water level over ini jelas mengarah pada satu kesimpulan, yakni ekspektasi institusi terhadap total gol pertandingan yang menembus 2,5 gol tidaklah terlalu kuat. Yang lebih patut diwaspadai adalah sebagian institusi yang tetap bertahan di line 2,5 gol, di mana water level over dari awalnya 0,80 hingga 0,95 justru ditekan ke level sangat rendah 0,65 hingga 0,70. Operasi dengan line tipis dan water level sangat rendah seperti ini secara permukaan memang menguntungkan over, tetapi sejatinya bertujuan menarik arus dana ke arah over dengan water level yang sangat rendah, sekaligus mengurangi tekanan pada under. Seluruh pergerakan struktur handicap ini memperlihatkan bahwa perlindungan institusi terhadap over sesungguhnya tidak cukup kuat.
Dari sisi fundamental, ada pula petunjuk yang mendukung under. Brasil dalam empat laga Piala Dunia sebelumnya memang belum terkalahkan, tetapi efisiensi lini serang mereka tidak stabil. Gelandang serang Paqueta dan winger kiri Raphinha sama-sama absen karena cedera hamstring, sehingga kreativitas di lini depan dan kemampuan penetrasi dari sisi sayap akan terdampak cukup signifikan. Norwegia dalam empat laga Piala Dunia sebelumnya semuanya menghasilkan over, tetapi jika diteliti komposisi lawannya, mereka mencetak lebih banyak gol saat menghadapi tim-tim yang relatif lebih lemah seperti Irak dan Senegal, sementara saat melawan Prancis mereka hanya mampu mencetak 1 gol, sehingga kemampuan mereka untuk membongkar pertahanan lawan masih diragukan. Sifat laga gugur yang menentukan segalanya dalam satu pertandingan membuat kedua tim akan tampil lebih berhati-hati; tidak ada pihak yang ingin mengambil risiko menyerang sejak awal laga. Jika menggabungkan sinyal jebakan dari kenaikan line dan kenaikan water level dengan karakteristik hati-hati di babak gugur, arah under layak mendapat perhatian mendalam.