Australia menghadapi Mesir di Stadion Dallas. Ini adalah pertemuan pertama kedua tim di laga resmi Piala Dunia, sekaligus duel antarbenua antara sistem pertahanan Asia dan senjata serangan balik Afrika. Australia berada di Grup D dan lolos sebagai runner-up dengan raihan 4 poin lewat 1 kemenangan, 1 imbang, dan 1 kekalahan. Pada laga pertama fase grup mereka menang 2-0 atas Turki, pada laga kedua kalah 0-2 dari Amerika Serikat, dan pada laga terakhir imbang 0-0 dengan Paraguay. Dalam tiga pertandingan, mereka hanya mencetak 2 gol; daya dobrak mereka masih lemah. Namun, lini belakang hanya kebobolan 2 gol, dan sistem tiga bek menunjukkan stabilitas yang menonjol. Duel udara Harry Souttar dan penyelamatan di garis gawang dari Mathew Ryan menjadi inti kekuatan tim. Penciptaan gol sangat bergantung pada serangan dari sepak pojok, tendangan bebas, dan serangan balik, sementara di sisi sayap Aiden O'Neill bertugas melakukan sprint untuk menarik pertahanan lawan. Kelemahannya adalah kurangnya sentuhan halus dalam penguasaan bola di lini tengah, sehingga serangan posisi sulit terus-menerus menciptakan ancaman.
Mesir kembali menembus fase gugur Piala Dunia setelah 28 tahun. Mereka lolos dari Grup G sebagai tim tak terkalahkan dengan 1 kemenangan dan 2 imbang, mengoleksi 5 poin. Mereka menahan imbang Belgia dan Iran 1-1, lalu menang besar 3-1 atas Selandia Baru. Di fase grup, mereka mencetak 5 gol, dengan serangan yang datang dari banyak pemain. Tim ini mengandalkan formasi 4-2-3-1 berbasis serangan balik, dengan Salah dan Marmoush membentuk poros ganda di lini depan. Penetrasi satu lawan satu dari sayap dan efisiensi transisi mereka berada di level sangat tinggi, sementara Elneny mengawal lini tengah dengan tugas memotong aliran bola dan melakukan tekel agresif. Namun, pertahanan Mesir kurang tinggi badan, kelemahan dalam duel bola udara cukup jelas, dan serangan mereka terlalu bergantung pada Salah saat menguasai bola. Jika sang pemain inti dibatasi, agresivitas tim secara keseluruhan sangat mudah mandek. Kedua tim telah bertemu 4 kali di laga level A, dengan Mesir unggul tipis lewat 2 kemenangan, 1 imbang, dan 1 kekalahan. Pertemuan-pertemuan sebelumnya umumnya berakhir dengan skor kecil, tetapi kali ini logika serangan dan pertahanan kedua tim saling melengkapi: bola mati Australia dan serangan balik sayap Mesir sama-sama mampu menciptakan peluang gol secara stabil. Kedua tim juga sama-sama rutin mencetak gol di fase grup, sementara di lini pertahanan masing-masing masih ada celah yang jelas. Dengan ritme pertandingan yang saling tarik-menarik, ruang untuk terjadinya gol cukup besar.