Swiss sebagai salah satu kekuatan lama di Eropa, melaju dengan mantap sebagai juara grup, dengan disiplin taktik yang sangat kuat dan mengandalkan sistem penguasaan bola serta pertahanan yang solid. Lini belakang tim ini berlapis jelas, kerja sama antarlini berjalan baik, dan stabilitas saat ditekan sangat menonjol, tetapi kelemahannya juga sangat jelas: tim ini terbiasa mengawali laga dengan lambat, ritme saat membongkar pertahanan rapat cenderung tersendat, kurang memiliki pemain eksplosif kelas atas untuk melakukan terobosan, efisiensi mencetak gol dalam permainan terbuka relatif rendah, sehingga sulit menciptakan banyak gol dalam waktu singkat. Di fase gugur, tim ini akan tetap mengutamakan kelolosan yang aman dan tidak akan gegabah menaikkan garis pertahanan untuk menekan habis-habisan.
Aljazair, dengan status kuda hitam, berhasil lolos dari fase grup secara dramatis, tetapi kekuatan keseluruhannya terbatas dan sikap bertandingnya di lapangan sangat konservatif. Serangan tim ini terlalu bergantung pada terobosan satu lawan satu Mahrez dan bola mati, sehingga variasi serangannya minim dan kemampuan menciptakan ancaman secara berkelanjutan kurang memadai. Selain itu, setelah menit ke-60, kondisi fisik mereka turun drastis, dan ancaman serangan pun menurun tajam. Di saat yang sama, tim ini secara khusus mengandalkan pertahanan rapat rendah, meninggalkan permainan saling serang yang tidak efektif, dan berfokus penuh untuk mempersempit ruang laga serta membatasi jumlah gol.
Gaya taktik kedua tim sangat menekan tren laga besar; Swiss menguras tempo lewat penguasaan bola, sementara Aljazair bertahan mati-matian dan mengandalkan serangan balik, sehingga tempo pertandingan dipersempit dari dua sisi. Tanpa dasar permainan terbuka yang saling menyerang, toleransi kesalahan dalam fase menyerang maupun bertahan cenderung konservatif, sehingga sangat sulit untuk menembus batas 2,5 gol sepanjang laga. Secara keseluruhan dari analisis fundamental, saya pribadi merekomendasikan under 2/2,5