Penampilan Belanda pada laga pertama tidak terlalu meyakinkan. Saat menghadapi Jepang, Belanda unggul penguasaan bola lebih dari 60%, jumlah operan dua kali lipat dari lawan, namun tetap harus menerima hasil imbang setelah sempat unggul dua gol. Tim ini kurang mampu mengontrol tempo pertandingan setelah unggul, dan konsentrasi di lini pertahanan terlihat menurun secara jelas pada babak kedua. Lini belakang yang dipimpin Virgil van Dijk beberapa kali ditembus serangan balik cepat Jepang pada laga pertama, memperlihatkan celah di belakang garis pertahanan tinggi mereka.
Swedia membuka laga pertama dengan kemenangan telak 5-1 atas Tunisia, menunjukkan efisiensi serangan yang sangat tinggi. Kerja sama Isak dan Gyökeres di lini depan semakin padu, dan kecepatan serta daya dobrak keduanya dalam serangan balik menjadi tipe ancaman yang paling ditakuti lini belakang Belanda. Swedia hanya mencatat 4 tembakan tepat sasaran sepanjang laga, tetapi mampu mencetak 5 gol (termasuk gol bunuh diri lawan), sebuah rasio konversi serangan yang luar biasa. Tim Swedia ini bukan lagi sekadar tim tradisional yang mengandalkan umpan-umpan panjang dan bola-bola udara, melainkan telah memadukan transisi cepat dan serangan dari sisi sayap dalam gaya sepak bola modern.
Pada laga ini, handicap Asia awal menempatkan tuan rumah memberi setengah gol, lalu menjelang pertandingan naik seragam menjadi setengah bola/satu bola, dengan water level tim tuan rumah naik dari kisaran 0,70-0,85 di level menengah-rendah ke 0,88-0,93 di level menengah-tinggi. Kenaikan handicap itu sendiri menunjukkan peningkatan kepercayaan bandar terhadap Belanda. Meski water level ikut naik, dalam konteks kemenangan besar Swedia pada laga pertama, handicap yang dinaikkan dan water level tinggi justru berfungsi menahan laju, sehingga menghindarkan tim unggulan dari kepanasan pasar. Jika bandar tidak yakin pada Belanda, mempertahankan handicap setengah bola dengan water level rendah untuk menyerap taruhan tentu lebih masuk akal.
Keunggulan Belanda terletak pada kendali di lini tengah. Trio Frenkie de Jong, Tijjani Reijnders, dan Ryan Gravenberch secara teknik serta kemampuan menguasai bola jelas lebih unggul dibanding Carlström dan Ayari milik Swedia. Selama Belanda mampu menekan kecepatan serangan balik Swedia melalui penguasaan bola di lini tengah, ancaman Isak dan Gyökeres akan turun drastis. Belanda juga tidak terkalahkan dalam 10 pertemuan terakhir melawan Swedia (3 menang, 3 imbang), sehingga unggul secara psikologis.
Secara keseluruhan, kekuatan utama Belanda dan kontrol mereka di lini tengah adalah kunci yang menentukan arah pertandingan. Serangan balik Swedia memang tajam, tetapi saat menghadapi tim bertipe teknis, mereka kerap terbatas oleh kelemahan dalam penguasaan bola. Pada laga ini, kemenangan Belanda adalah hasil yang sangat mungkin terjadi.
Rekomendasi handicap Asia: Belanda memberi setengah bola/satu bola.
Referensi skor: 2-0, 1-0.