none

Pernyataan Bersama Premier League, LaLiga, Serie A, dan Bundesliga: FIFA Harus Melakukan Reformasi Mendasar

Vincenzo Golazzo
icon_like_uncheck2

Empat liga besar Eropa—Premier League, LaLiga, Serie A, dan Bundesliga—telah mengeluarkan pernyataan bersama yang menyerukan reformasi mendesak di dalam FIFA untuk menetapkan mekanisme checks and balances atas kekuasaan Presiden FIFA dan mencegah penyalahgunaan kekuasaan di masa depan.

[Isi Pernyataan]

Piala Dunia mungkin merupakan puncak olahraga kami, tetapi fondasi sepak bola dijaga dari pekan ke pekan, di stadion-stadion yang penuh dan komunitas lokal di seluruh dunia, oleh para pemain, suporter, klub, dan liga yang berdedikasi.

Dalam beberapa tahun terakhir, fondasi sepak bola yang telah lama berdiri telah terancam oleh kegagalan tata kelola yang mendasar: alih-alih melindungi sepak bola dari gagasan yang eksploitatif, Presiden FIFA justru secara aktif mempromosikannya. Meskipun para pemangku kepentingan sepak bola pada akhirnya memaksa penarikan proposal "FIFA Forward", kondisi mendasar yang melahirkannya tetap sepenuhnya ada.

Walaupun Presiden FIFA kini telah mengakui perlunya reformasi, sekadar membahas perubahan prosedural yang dangkal setelah episode "Forward" tidaklah cukup. Reformasi tata kelola yang mendasar sangat penting untuk memulihkan batas-batas konstitusional yang jelas di dalam FIFA, termasuk memastikan bahwa urusan disipliner individu secara nyata bebas dari campur tangan politik. Masa depan FIFA penting bagi siapa pun yang peduli terhadap sepak bola, karena jika fondasinya dirusak, olahraga kita tidak akan bisa tumbuh dan berkembang secara global.

Krisis tata kelola FIFA jauh melampaui peran satu individu. Persoalan yang lebih luas adalah apakah Presiden FIFA seharusnya memegang kekuasaan regulatif, komersial, dan politik yang begitu besar tanpa checks and balances yang efektif, termasuk persetujuan dari para pemangku kepentingan yang terdampak. Lebih dari satu dekade lalu, menyusul proses pidana yang melibatkan pejabat senior sepak bola, proses reformasi FIFA sendiri berupaya mengatasi isu-isu ini; namun, sepak bola kembali menjadi korban salah satu penyalahgunaan kekuasaan paling serius dalam sejarah FIFA.

Kami berbicara dengan satu suara sebagai anggota pendiri European Leagues dan World Leagues Association karena kami memahami bagaimana ekspansionisme FIFA yang tanpa henti berdampak pada semua pihak. Masing-masing dari kami mengelola ekosistem profesional yang menghubungkan level akar rumput olahraga kami dengan kompetisi domestik dan internasional elite. Dengan mempertemukan jutaan orang, liga sepak bola domestik di seluruh dunia menghasilkan nilai sosial dan ekonomi yang besar: mendukung industri, menciptakan lapangan kerja, berinvestasi dalam pengembangan akar rumput, dan memberikan pemasukan pajak yang signifikan bagi komunitas kami.

Sekitar satu persen pemain profesional di seluruh dunia berpartisipasi di Piala Dunia FIFA, sementara para pemain lainnya dan klub mereka terhenti selama penutupan liga domestik. Namun, ketika FIFA mengambil keputusan besar secara sepihak yang berdampak langsung pada kami—seperti memperluas Kalender Pertandingan Internasional dan memperpanjang periode penutupan wajib bagi kompetisi domestik—para pemangku kepentingan yang terdampak justru tidak diberi keterlibatan yang berarti dalam proses pengambilan keputusan. Model tata kelola FIFA yang memusatkan kekuasaan regulatif, komersial, dan politik yang tidak terkontrol pada satu kantor, sementara menempatkan para pemangku kepentingan yang terdampak hanya dalam peran konsultatif, adalah model yang anarkronistis dan ketinggalan zaman.

Dalam beberapa tahun terakhir, yurisprudensi peradilan internasional secara konsisten menegaskan satu prinsip: badan pengatur olahraga boleh mengatur permainan kami, tetapi kewenangan mereka tidaklah tak terbatas. Ketika FIFA ingin mengorganisasi kompetisi, FIFA harus menghilangkan konflik kepentingan yang melekat melalui aturan dan kriteria yang transparan, objektif, tidak diskriminatif, dan proporsional, yang disusun secara inklusif serta tunduk pada peninjauan independen yang efektif.

Pengaduan yang diajukan oleh liga-liga ke Komisi Eropa pada Oktober 2024 terkait Kalender Pertandingan Internasional merupakan konsekuensi langsung dari kerangka tata kelola yang cacat ini. Dalam kerangka ini, FIFA dapat memanfaatkan kewenangan regulatifnya untuk mendorong tujuan komersialnya sendiri tanpa memedulikan keberlanjutan ekonomi dan sosial dari kompetisi nasional, yang memengaruhi semua pemangku kepentingan.

Demi kebaikan sepak bola, status quo ini harus segera diubah.

Karena itu, kami secara bersama-sama menyerukan struktur tata kelola baru bagi badan pengatur global olahraga kami yang transparan, objektif, proporsional, dan inklusif, yang berlandaskan tiga komitmen inti. Kami mendesak FIFA untuk:

Memberikan peran yang nyata kepada pemangku kepentingan yang terdampak dalam pengambilan keputusan

FIFA harus membentuk badan permanen yang mewakili pemangku kepentingan utama, termasuk asosiasi nasional, liga, klub, dan pemain dari sepak bola putra maupun putri. Badan baru ini harus diberi informasi penuh mengenai semua inisiatif baru dan memiliki peran substansial dalam proses pengambilan keputusan FIFA. Untuk keputusan yang berkaitan dengan kalender pertandingan, kondisi kerja, kompetisi, dan aset inti sepak bola, persetujuan dari kelompok pemangku kepentingan yang terdampak langsung oleh keputusan tersebut harus diperoleh.

Memastikan pengambilan keputusan berbasis bukti

Setiap proposal besar FIFA harus terlebih dahulu mencakup alasan yang jelas, bukti pendukung, serta penilaian dampak independen yang dipublikasikan sebelum keputusan diambil—mencakup pemain, klub, liga, dan suporter, serta mengevaluasi konsekuensinya bagi semua pemangku kepentingan dan perkembangan sepak bola. Seluruh alternatif harus ditelaah secara ketat, dan keputusan akhir harus disertai penjelasan yang dipublikasikan kepada publik.

Memisahkan peran regulatif FIFA dari fungsi komersialnya

Peran FIFA sebagai regulator dan penjaga permainan harus secara struktural dipisahkan dari operasi komersialnya sebagai penyelenggara kompetisi global melalui perlindungan kelembagaan yang kuat untuk menjaga kepercayaan, legitimasi, dan akuntabilitas. Penunjukan, anggaran, dan mandat Komite Etik, badan pengawasan keuangan, dan komite pemilihan harus benar-benar independen dari administrasi eksekutif FIFA dan kepresidenan. Reformasi ini akan memastikan bahwa hak inti kompetisi FIFA, termasuk Piala Dunia, dipegang sebagai amanah untuk seluruh komunitas sepak bola.

Menatap Masa Depan

Pada momen krusial bagi olahraga kami ini, kami mendorong para kandidat Presiden FIFA untuk mendukung prinsip-prinsip ini dan, dalam 100 hari pertama masa jabatan presiden berikutnya, mengadakan konvensi tata kelola yang dipimpin oleh tokoh independen, mewakili asosiasi anggota dan komunitas sepak bola yang lebih luas, dengan mandat untuk menghasilkan laporan publik dalam waktu enam bulan.

Semua kandidat Presiden FIFA harus mempublikasikan platform reformasi mereka, memperdebatkan manfaatnya, dan mematuhi peraturan pemilihan yang adil. Sumber daya keuangan, hukum, komunikasi, dan pemasaran FIFA, serta dana pengembangan sepak bolanya, harus tetap sepenuhnya netral dan tidak pernah digunakan untuk memberikan keuntungan elektoral kepada kandidat mana pun.

Kami mengundang konfederasi kontinental, asosiasi nasional, liga, klub, serikat pemain, kelompok suporter, dan otoritas publik untuk bergabung dalam perjuangan ini dan menjunjung tinggi prinsip-prinsip tersebut.

Sudah waktunya untuk memutuskan bukan hanya siapa yang memimpin FIFA, tetapi juga bagaimana FIFA harus dipimpin. Liga memainkan peran vital dalam proses ini, dan kami ingin memastikan bahwa suara setiap liga didengar.

Sepak bola membutuhkan FIFA yang kuat sebagai sebuah institusi. Namun, kekuatan harus diimbangi dengan akuntabilitas. Kewenangan FIFA hanya dapat berasal dari tanggung jawab bersama, kesediaan untuk diawasi, dan kemampuan untuk memperoleh kepercayaan.